Jumat, 29 Juli 2011

INERSIA UTERI

INERSIA UTERI


A.     Pengertian

Distosia kelainan tenaga/his adalah his tidak normal dalam kekuatan / sifatnya menyebabkan rintangan pada jalan lahir, dan tidak dapat diatasi sehingga menyebabkan persalinan macet (Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo, 1993).

Inersia uteri adalah kelainan his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar. (Prof. Dr. Rustam mochtar, MPH, sinopsis obstetri, 305)

Inertia uteri adalah ketidakmampuan otot rahim untuk mengadakan kontraksi secara efisien. (Midwives’ Dictionary) 

 Inertia uteri adalah pemanjangan fase laten atau fase aktif atau kedua-duanyadari kala pembukaan. (FK UNPAD)


B.     Macam-macam inertia uteri
1.         Hipotonik (sekunder)
a.          Frekuensi his jarang, kekutannya lemah, lamanya sebentar, relaksasinya sempurna, dengan CTG terlihat tekanan yang kurang dari 15 mmHg, dengan palpasi  pada puncak kontraksi dinding rahim masih bias ditekan ke dalam.
b.         Biasanya terjadi pada fase aktif atau kala II
c.          Nyeri berkurang, gawat janin lambat terjadi.
d.         Reaksi terhadap oksitosin baik
2.         Hipertonik (primer)
a.          His tidak terkoordinasi(his yang berubah-ubah. His jenis ini disebut Ancoordinat Hypertonic Urine Contraction. Tonus otot meningkat diluar his dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi. Tidak adanya kordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan)  irregular, tidak efektif, tidak ada dominasi fundus.
b.         Biasanya terjadi pada fase laten
c.          Nyeri bertambah, gawat janin cepat terjadi
d.         Reaksi terhadap oksitosin tidak baik

C.     Etiologi
Menurut Rustam Mochtar (1998) sebab-sebab inersia uteri adalah :
1.         Kelainan his sering dijumpai pada primipara
2.         Faktor herediter, emosi dan ketakutan
3.         Salah pimpinan persalinan dan obat-obat penenang
4.        Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah rahim, ini dijumpai pada kesalahan-kesalahan letak janin dan disproporsi sevalopelvik
5.         Kelainan uterus, misalnya uterus bikornis unikolis
6.         Kehamilan postmatur (postdatism)
7.         Penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia
8.    Uterus yang terlalu teregang misalnya hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia

D.    Faktor predesposisi
1.         Anemia
2.         Hidromnion
3.         grande multipara
4.         primipara
5.         pasien dengan emosi kurang baik

E.     Komplikasi yang mungkin terjadi
Inersia uteri dapat menyebabkan persalinan akan berlangsung lama dengan akibat-akibat terhadap ibu dan janin (infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi,gawat janin dan lain-lain)

F.      Diagnosis
Untuk mendiagnosa inersia uteri memerlukan pengalaman dan pengawasan yang teliti terhadap persalinan. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah mulai. Untuk sampai kepada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi. Pada fase laten diagnosis akan lebih sulit, tetapi bila sebelumnya telah ada kontraksi (his) yang kuat dan lama, maka diagnosis inersia uteri sekunder akan lebih mudah.

G.    Penatalaksanaan
1.         Penatalaksanaan umum  
a.          Observasi keadaan umum ibu dan janin
b.         Suportif, atasi kelelahan ibu
c.          Janganberi makan dan minum seperti biasa karena mungkin persalinan akan dilakukan dengan tindakan
2.         Penatalaksanaan khusus
a.          Stimulasi kontraksi uterus dengan oksitosin
b.         SC jika stimulasi kontraksi uterus dengan oksitosin gagal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar